Ia Tidak Pernah Benar-Benar Berhenti
Catatan seorang perempuan di penghujung Ramadhan Ada satu jenis lelah yang jarang dibicarakan. Lelah seorang perempuan. Ia tidak pernah benar-benar mengeluh. Bukan karena hidupnya selalu mudah, tetapi karena terlalu banyak hal yang harus tetap berjalan. Pagi di rumahnya selalu dimulai lebih awal daripada yang lain. Saat sebagian orang masih memeluk bantal, ia sudah terbangun. Langkahnya pelan menuju dapur. Menyalakan lampu yang redup, menyiapkan makanan, memanaskan air, memastikan semuanya siap sebelum keluarga terbangun. Tidak ada yang benar-benar melihat proses itu. Tahu-tahu saja, makanan sudah tersedia. Tahu-tahu rumah terasa rapi. Bersih. Nyaman untuk ditinggali. Pakaian sudah siap dipakai. Anak sudah siap berangkat sekolah. Kebutuhan sandang dan pangan terasa aman. Seolah semuanya terjadi begitu saja. Padahal di balik semua itu ada seorang perempuan yang sejak pagi sudah memikirkan banyak hal. Ia adalah seorang istri . Ia belajar bahwa pernikahan buka...