Ia Tidak Pernah Benar-Benar Berhenti
- Get link
- X
- Other Apps
Catatan seorang perempuan di penghujung Ramadhan
Ada satu jenis lelah yang jarang dibicarakan.
Lelah seorang perempuan.
Ia tidak pernah benar-benar mengeluh. Bukan karena hidupnya selalu mudah, tetapi karena terlalu banyak hal yang harus tetap berjalan.
Pagi di rumahnya selalu dimulai lebih awal daripada yang lain.
Saat sebagian orang masih memeluk bantal, ia sudah terbangun. Langkahnya pelan menuju dapur. Menyalakan lampu yang redup, menyiapkan makanan, memanaskan air, memastikan semuanya siap sebelum keluarga terbangun.
Tidak ada yang benar-benar melihat proses itu.
Tahu-tahu saja, makanan sudah tersedia.
Tahu-tahu rumah terasa rapi.
Bersih.
Nyaman untuk ditinggali.
Pakaian sudah siap dipakai.
Anak sudah siap berangkat sekolah.
Kebutuhan sandang dan pangan terasa aman.
Seolah semuanya terjadi begitu saja.
Padahal di balik semua itu ada seorang perempuan yang sejak pagi sudah memikirkan banyak hal.
Ia adalah seorang istri.
Ia belajar bahwa pernikahan bukan sekadar tentang dua orang yang hidup bersama. Kadang pernikahan adalah tentang dua orang yang sama-sama lelah, tetapi tetap memilih untuk saling menguatkan.
Tidak selalu ada kata-kata manis.
Kadang hanya ada secangkir teh hangat di meja makan.
Atau pertanyaan sederhana, “Hari ini capek ya?”
Namun bagi seorang perempuan, perhatian kecil seperti itu sering cukup untuk membuat hatinya kembali kuat.
Ia juga seorang ibu.
Menjadi ibu tidak pernah benar-benar diajarkan di sekolah mana pun. Tidak ada buku panduan yang benar-benar lengkap.
Ia belajar dari tangisan anaknya.
Dari kesalahan-kesalahan kecil yang ia perbaiki setiap hari.
Dari doa-doa yang ia panjatkan diam-diam ketika anaknya tertidur.
Bagi anak-anaknya, mungkin semua terlihat biasa saja.
Tapi bagi seorang ibu, setiap hari adalah perjuangan kecil yang ia jalani dengan sepenuh hati.
Dan di luar rumah, ia juga seorang pegawai negeri sipil.
Ia mengenakan seragam dengan rapi setiap pagi. Berangkat dengan tanggung jawab yang tidak kecil. Bekerja di balik meja, melayani masyarakat, menyelesaikan tugas demi tugas yang tidak pernah benar-benar habis.
Di sana ia bukan hanya seorang ibu.
Ia adalah bagian dari sistem yang diharapkan berjalan dengan baik.
Kadang tubuhnya lelah.
Kadang pikirannya penuh.
Kadang ia pulang dengan energi yang hampir habis.
Namun sesampainya di rumah, dunia lain sudah menunggunya.
Ada anak yang ingin bercerita.
Ada rumah yang perlu dibereskan.
Ada dapur yang kembali harus hidup.
Begitulah hari-harinya berjalan.
Tidak selalu mudah.
Tidak selalu ringan.
Namun ia tetap melangkah.
Ramadhan selalu datang membawa ruang untuk berhenti sejenak.
Di penghujung bulan suci itu, ketika malam semakin tenang dan rumah sudah tertidur, perempuan itu duduk sendirian.
Mushaf terbuka di pangkuannya.
Ia membaca perlahan, lalu berhenti di tengah ayat.
Hatinya tiba-tiba penuh.
Ia teringat hari-hari yang ia jalani.
Tentang lelah yang sering tidak terlihat.
Tentang usaha yang sering tidak disadari.
Tentang peran yang kadang terasa begitu sunyi.
Namun malam itu ia memahami sesuatu.
Bahwa mungkin Tuhan selalu melihat apa yang manusia sering lewatkan.
Tuhan melihat ketika ia bangun sebelum subuh.
Tuhan melihat ketika ia tetap sabar di tengah kelelahan.
Tuhan melihat ketika ia tetap bekerja dengan jujur dan menjalankan tanggung jawabnya.
Dan mungkin…
semua hal kecil yang ia lakukan setiap hari sebenarnya bukan hal kecil sama sekali.
Menjadi perempuan bukan berarti harus selalu kuat.
Tetapi selalu menemukan alasan untuk tetap melangkah.
Ramadhan hampir pergi.
Seperti tamu yang selalu datang membawa cahaya, lalu pulang meninggalkan pelajaran.
Perempuan itu menutup mushafnya perlahan.
Besok pagi ia akan kembali bangun lebih dulu dari yang lain. Menyiapkan sarapan, merapikan rumah, mengantar anak memulai hari, lalu kembali mengenakan seragamnya.
Rutinitas yang sama.
Namun dengan hati yang sedikit lebih tenang.
Karena kini ia tahu satu hal.
Bahwa perempuan sering kali tidak terlihat hebat di mata dunia.
Namun diam-diam, merekalah yang menjaga banyak kehidupan tetap berjalan.
Dan mungkin…
di balik rumah yang hangat, keluarga yang tenang, dan anak-anak yang tumbuh bahagia—
selalu ada seorang perempuan yang tidak pernah benar-benar berhenti.
Comments
Post a Comment